Wednesday, August 17, 2005

Achmad Albar, Sang Ikon

Ahmad Albar & Rini, 1996
SATU-satunya anggota God Bless yang tidak pernah meninggalkan grup itu cuma Achmad Albar. Satu-satunya penyanyi rock angkatan 1970-an yang masih "laku" dalam rekaman maupun panggung sampai saat ini adalah Albar sendiri.

IA tampil di Kuala Lumpur (Malaysia), 7 Februari 2004, bersama God Bless untuk memeriahkan ulang tahun grup rock Malaysia, Search. Seusai konser, Albar langsung bergabung dengan 11 penyanyi pujaan remaja dewasa ini: Duta (Sheila On 7), Armand Maulana (Gigi), Fadly (Padi), Kikan (Coklat), Andy (/rif), Roy (Bumerang), Warna, Audy, Ratu, Rio Febrian, dan Glenn. Mereka bersama-sama menyanyikan Rumah Kita yang diambil dari album God Bless, Semut Hitam.

Semut Hitam menjadi bagian dalam album Tribute To Ian Antono, produksi Sony Music Indonesia. "Tua-tua keladi, makin tua makin jadi", itulah pepatah yang cocok bagi Albar, sebagaimana ditulis Kompas edisi 7 Desember 1997. Dalam usianya yang menjelang 58 tahun, pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946, yang bernama asli Achmad Syech Albar, sudah berkiprah dalam rekaman musik rock selama 34 tahun. Lagu-lagu ciptaan Albar sempat menduduki anak tangga di Belanda, seperti Don’t Spoil My Day dan Tell Me The World yang ia nyanyikan bersama Clover Leaf tahun 1970.

Setelah bermukim selama delapan tahun di Negeri Kincir Angin itu sejak 1965, anak keempat hasil pernikahan Syech Albar dengan Farida Alhasni ini kembali ke Tanah Air dan mendirikan God Bless bersama Fuad Hassan (drum), Donny Fattah (bass), Jockie Soeryoprayogo (keyboard), dan Ludwig Lemans (gitar). Pertama kalinya mereka tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) tanggal 5 Mei 1973.

"Mengapa Ludwig? Karena kami sudah bergabung di Clover Leaf dan saya tahu kebolehannya bermain gitar dan menata musik. Lagi pula dia lahir di Indonesia sehingga saya harap dia bisa beradaptasi dengan kultur Indonesia," ujar Albar tentang rekannya dari Belanda yang juga sempat tampil dalam pesta musik alam terbuka terbesar dan yang pertama kali diadakan di Indonesia, Summer 28. Konser ini berlangsung 16 Agustus 1973 di Ragunan, Pasar Minggu.

Walaupun hanya bertahan beberapa bulan di Jakarta, Ludwig memanfaatkan waktunya dengan menghasilkan sebuah rekaman berisi 10 lagu bersama Deddy Dores, Donny, dan Fuad pada bulan September 1973 dalam grup yang mereka namakan The Road. Bersama God Bless, Ludwig juga muncul dalam film komedi berdurasi 95 menit berjudul Ambisi, arahan sutradara Nya Abbas Akup.

Superstar

Album Godbless Vs SearchSejak penampilannya yang pertama bersama God Bless di TIM, Albar melesat bagaikan meteor menyisihkan bintang-bintang yang banyak bertebaran di langit. Dia menjadi superstar. Majalah Tempo edisi 27 September 1975 menjadikan dia sebagai laporan utama dengan memajang foto Albar di sampul depan.

"Di atas pentas, tubuhnya yang tampak tipis sering dibalut pakaian yang agak aneh. Kadang hanya memakai singlet atau rompi, sepatu bot setinggi lutut, atau semacam mantel hitam mirip punya Zorro. Mik yang dipegang pada gagangnya sering diangkat-angkat, dihujam-hujamkan. Kadang diputar-putar di atas kepalanya, seperti atlet pelempar martil," tulis Tempo tentang Albar yang tingginya 1,76 meter dan beratnya 60 kilogram itu.

Gaya Albar di panggung ini mengilhami gerakan Camelia Malik pada awal kariernya sebagai penyanyi bersama grup dangdut Tarantulla pimpinan Reynold Panggabean tahun 1979. Camelia adalah adik Albar satu ibu dan ayahnya adalah tokoh perfilman Indonesia, Djamaludin Malik.

Sejak itu majalah-majalah, seperti Aktuil, Top, dan Junior berkali-kali melakukan seperti yang dilakukan Tempo. Waktu itu Albar hanya berkibar di atas panggung dan membawakan lagu-lagu grup rock mancanegara, seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, Yes, dan sebagainya. Satu-satunya lagu ciptaan sendiri yang dibawakan adalah She Passed Away, karya Albar dan Donny yang terinspirasi dari mitologi Yunani, Helen Of Troy.

Albar semakin kukuh setelah terbitnya album God Bless yang diproduki dengan berani oleh Johanes Soeryoko dan Imran Amir dari perusahaan rekaman Pramaqua (Prambors-Aquarius), Huma Di Atas Bukit (1976). Soalnya, pada era tahun 1970-an itu, rekaman lagu-lagu rock Indonesia belum lazim dan dianggap sulit menembus pasar yang didominasi lagu-lagu pop.

Sayang, Huma Di Atas Bukit yang menjadi lagu film Laila Majenun, ternyata belakangan terbukti merupakan adaptasi secara bulat-bulat alias contekan dari nomor Firth Of Fifth karya Genesis dalam album Selling England By The Pound. Ironisnya, Huma Di Atas Bukit yang kasetnya diterbitkan kembali tahun 1990 justru membawa Albar memperoleh penghargaan sebagai Penyanyi Terbaik versi BASF Awards tahun 1991.

Lagu ciptaan God Bless lainnya, seperti Setan Tertawa, Gadis Binal, Rock Di Udara, Sesat , dan She Passed Away memperlihatkan potensi Ian Antono, Jockie, Donny, dan Teddy Sudjaya (drum) sebagai pelaku rekaman yang andal. Donny, misalnya, setelah menyelesaikan album ini langsung membuat album solo D&R dan mengajak Albar membawakan lagu Bawaku Serta.

Ian semakin menaikkan supremasi Albar lewat duetnya dengan Ucok Harahap dengan lagu Neraka Jahanam tahun 1977. Jockie naik daun dengan Badai Pasti Berlalu pada tahun berikutnya dan Teddy memopulerkan Anggun C Sasmi dengan lagu Tua Tua Keladi beberapa tahun kemudian.

Majalah Aktuil menobatkan Albar sebagai vokalis terbaik 1976, yang membuat bahagia pemilik rambut kribo yang berlingkaran 75 sentimeter ini. Ia sukses membawakan lagu Jelaga, salah satu dari 10 lagu terbaik versi Lomba Cipta Lagu Prambors tahun 1977. Guruh Soekarnoputra yang baru menyelesaikan rekaman Guruh Gipsy dengan memadukan unsur musik Indonesia (terutama musik Bali) dengan musik Barat, dan mementaskan karyanya itu dalam pergelaran bersama kelompok tari kontemporer Swara Mahardhika di Jakarta, 6-7 Januari 1979, mengajak Albar membawakan lagu Anak Jalanan di atas panggung.

Album Neraka Jahanam yang sukses di pasar diikuti album Duo Kribo kedua, Pelacur Tua (1978), pada saat Albar sibuk merancang pernikahannya dengan Rini S Bono tanggal 28 April 1978. Rini adalah lawan mainnya dalam film Laila Majenun arahan sutradara Sumanjaya. Duo Kribo masih berlanjut dengan album ketiga, Panggung Sandiwara, karya Ian dengan lirik Taufik Ismail. Lagu itu adalah satu-satunya yang bukan lagu God Bless yang paling sering dibawakan band itu di atas panggung.

Dangdut

Dengan prakarsa wartawan majalah musik Junior, Masheri Mansyur, pada tahun 1979 Albar membuat rekaman dangdut, Zakia, dengan honor Rp 25 juta. Meskipun banyak dikecam penggemar musik rock waktu itu, setelah album tersebut diterbitkan Ramli Rukman dari Sky Records, pujian justru berdatangan. Ian memperlihatkan kepiawaiannya sebagai seorang gitaris, pencipta lagu, dan penata musik. Berawal sebagai pemusik pop dan rock, sentuhan Ian pada dangdut ternyata membawa angin segar bagi jenis musik yang paling banyak penggemarnya ini.

Album ini berisi sembilan lagu. Enam karya Albar adalah Zakia, Karena Harta, Mawar Merah, Raja Kumbang, Tuhan Ada, dan Beku. Tiga lainnya adalah Pernyataan (M Harris), Obral (Titiek Puspa), dan Raja Sehari (Ian). Bisa dikatakan album ini adalah salah satu masterpiece Ian dan sukses Zakia nyaris membawa Albar kebablasan terus berdangdut. Tanpa Ian, Albar terus berdangdut dan menerbitkan album Dangdutnya Albar, yang sepenuhnya didukung pemusik dan pencipta lagu dangdut.

Albar bahkan tampil dalam film Irama Cinta dengan ratu dangdut Elvy Sukaesih dan berduet membawakan lima lagu: Aku Bahagia, Rasa Berdebar, Seharusnya Kau Tahu, Engkau Jauh, dan Lintah Darat. Vokal Albar yang sedang berada pada masa terbaiknya ternyata tidak mudah mengimbangi vokal Elvy yang khas dangdut.

"Memang saya mengalami kesulitan waktu itu. Untuk menyanyi bercengkok dangdut tidak bisa saya lakukan dengan baik," kata Albar. Dihadapi vokal Elvy, tentu saja Albar terpaksa mengurangi vokal rock-nya sehingga terdengar seperti penyanyi pop. Rasa Berdebar, misalnya, bisa dikatakan sebagai pop dangdut.

Masuknya God Bless kembali ke studio untuk kedua kalinya tahun 1980 yang menghasilkan album Cermin menyebabkan langkah Albar di dangdut terhenti. "Soalnya setelah rekaman kami harus mengadakan tur, jadi saya harus kembali ke jalur musik rock," ungkap Albar.

Setelah album kedua itu, God Bless bisa dikatakan di antara "ada atau tiada" selama tujuh tahun berikutnya. Pada saat-saat vakum itu, sebagai penyanyi ternyata Albar terus berkibar, di panggung maupun rekaman. Di sini terbukti Albar bisa bekerja sama dengan siapa saja. Meskipun di atas panggung sering bersaing, dia bisa juga berduet dengan Gito Rollies lewat nomor Donna Donna, yang musiknya diaransemen Mus Mujiono.

"Saya tidak bisa bekerja sendiri. Sebagai penyanyi saya membutuhkan lagu dan musik. Untuk pertunjukan saya membutuhkan promotor, jadi saya merasa harus bisa bergaul dengan siapa saja dan bekerja sama dengan mereka," kata Albar.

Dunia Huru Hara adalah album solonya dengan dukungan lagu-lagu ciptaan Areng Widodo yang berisi 10 lagu: Kupanggil Namamu, Lembah Damai, Derita Jiwa, Burung Poutih, Balada Gadis Buta, Dunia Huru Hara, Hai Kamu, Kerinduan, Untukmu, dan Jalan-Jalan Hidupku. Meskipun lagu-lagu album ini lebih pop dari album God Bless, sekali-kali keluar juga ciri vokal rocknya.

Lagu-lagu dalam album Albar bersama Fariz RM, Secita Cerita, membawanya ke warna Fariz. Demikian juga dalam album lainnya bersama Fariz, Langkah Pasti ataupun Scenario. Albar semakin mempertegas bagaimana dia bisa bekerja sama dengan baik, seperti dalam duetnya dengan Farid Harja, 1...2...3... dalam album Tangan Baja. Hidupnya vokal Albar dalam album ini tidak bisa dimungkiri karena hadirnya Ian sebagai penata musik.

Ikon

Album Ahmad AlbarSyair Kehidupan adalah album solo Albar bersama Ian pada tahun 1980. Ciri khas Albar sepenuhnya muncul di sini, sebagaimana ketika dia menyanyi untuk God Bless. Tampaknya, Ian tahu betul kelebihan vokal Albar dan memanfaatkannya secara maksimal untuk menghidupkan sebuah lagu.

"Dia adalah penyanyi yang mengikuti apa yang dikehendaki seorang penata musik. Bahwa Albar bisa bergaul dan bekerja sama dengan siapa saja, saya kira benar juga. Selama bekerja sama dengan saya, baik di God Bless, Gong 2000, maupun album-album solonya, dia selalu memuaskan," ujar Ian.

Meskipun demikian, ketika membentuk Gong 2000 bersama Yaya Muktio (drum), Harry Anggoman (keyboard), dan Donny, Ian pada awalnya berencana mencari penyanyi baru. "Ada satu penyanyi yang sudah kami setujui bersama, tetapi setelah kami amati ternyata belum bisa dikedepankan," ujar Ian Antono.

Hal ini dibenarkan Albert Wijaya yang bersama Ian menggagas berdirinya Gong 2000. "Akhirnya kami memutuskan mengajak Albar karena dia masih yang terbaik," kata Albert. Konser Gong 2000 tanggal 26 Oktober 1991 di Parkir Timur Senayan memuaskan sekitar 100.000 penonton dengan peralatan sistem suara berkekuatan 120.000 watt dan lampu berkekuatan 300.000 watt.

Grup ini menghasilkan empat album: Bara Timur (1991), Gong Live (1992), Laskar (1993), dan Prahara (2000). Di sini Albar nyaris sempurna melahirkan God Bless kedua. Penggemar tampaknya tidak peduli apakah yang mereka dengar Gong 2000 atau God Bless, yang penting ada Ian, Donny, dan Albar.

Bukan hanya di kalangan musik rock saja Albar berkiprah. Dia juga membawakan Rahasia Semesta dalam Festival Lagu Pop Nasional XI tahun 1983. Kerja samanya pun semakin melebar ketika menjadi bintang tamu Oddie Agam dalam lagu Menangis Tak Berlagu. Kemudian bersama-sama Nicky Astria, Ikang Fawzi, dan Ian, Albar melalui Pakar Rock menghasilkan album Jangan Bedakan Kami dan Katakan Kita Rasakan (1988).

Akan tetapi, Albar juga masih sempat kembali bekerja sama dengan Areng dan menghasilkan Dunia Dibakar Api (1988), lalu duet lagi dengan Gito Rollies lewat Kartika (1989). Ia juga bersolo sendirian dengan album Bis Kota (1990), Giliran Siapa (1991), Rini Tomboy (1991), Menanti Kepastian (1992), Bunga Kehidupan (1994), Biarlah Aku Pergi (1994), dan Kendali Dendam (1995). Bersama Nicky Astria ia menghasilkan Jangan Ada Luka (1996).

Tahun 2004 Sony Music menawari Albar untuk menyanyikan Rumah Kita bersama penyanyi-penyanyi yang seusia dengan anak-anaknya. Adapun tiga putranya, Fauzy (24), Fahry (23), dan Fadly (22), sekarang tinggal di Amerika Serikat bersama Rini S Bono yang bercerai dengan Albar tanggal 30 September 1994.

Pemeran film Djenderal Kantjil (1958) ketika usianya baru 12 tahun ini telah melintas batas generasi untuk tetap berekspresi. "Dengan pribadinya yang mengesankan dan kemampuan vokalnya, dia memang belum ada gantinya dewasa ini," komentar Jan Djuhana, seorang manajer Sony Music Indonesia.

Kalau begitu, adakah yang sangsi jika dia disebut sebagai ikon musik rock Indonesia? (Theodore KS)

1 comment:

resurectio cantato said...

wow... siapa ragu achmad albar?, tapi saya lebih melihat penulis artikel ini THEODORE KS, bukankah ia ini termasuk penulis Lyrik Langganan IAN ANTONO, untuk GOD BLESS maupun Untuk Solo Achmad Albar sendiri... BALDA SEJUTA WAJAH salah satunya...... keren loh lirik bikinan Bung Theo ini